Minggu, 09 Mei 2010

Renungan Seperempat Abad

Post on FB April 26th

Seperempat abad bukanlah waktu yang singkat dalam kehidupan manusia. Tak terasa mungkin jatah umur yang sudah dipakai mencapai sepertiganya. Tak tau, mungkin juga sudah setengahnya atau malah sudah tiga perempatnya. Ya, tidak ada yang tahu kecuali Yang Maha Tahu. Meski tidak tahu, tidak ada tendensi untuk perlu takut dengan titik akhir ujian praktik dunia ini. Bukan hanya kelapa tua yang jatuh dari pohonnya, bakal buah atau malahan kelapa muda juga ada yang jatuh, artinya yang perlu ditakuti bukan kapan berakhirnya tapi bagaimana kalau berakhir tapi tujuan tidak tercapai.

Tujuan hidup bagi banyak orang pastinya berbeda-beda. Bagi saya hidup ini tujuanya cuma untuk kembali pulang ke alam keabadian dengan kebahagian. Hanya mengikuti rujukan ilmu yang sudah didapat, kita perlu beriman dan memohon kepada Allah dengan doa yang serius kita ingin selamat dari dunia ini dan kembali ke alam keabadian dengan ditempatkan di tempat yang sangat nikmat. Nikmat tiada terkira yang belum pernah dilihat, dirasa bahkan dipikirkan oleh orang yang hidup dari jaman permulaan sampai akhir jaman. Taufik, hidayah dan husnul khotimah adalah doa sepanjang waktu yang terus dipanjatkan saat kuteringat bahwa aku akan kembali kepada ketentuan-Nya. Doa itu sering dipanjatkan karena aku orang yang lemah yang sering kali jatuh dan akhirnya berbuat maksiat dan kedzoliman juga di muka bumi.

Sebelum sampai ke tempat nikmat itu paling tidak yang harus dilalui adalah ujian mental dan fisik di sisa hidupku yang tak sampai 70 tahun lagi, penantian di alam kubur ke hari kiamat entah berapa tahun, hari kebangkitan yang dari referensi 50000 tahun (melelahkan tidak peduli dia iman atau kafir bahkan nabi-nabi mengikuti proses ini), proses hisab sampai pintu kenikmatan yang lama dan mencekam perasaan kita entah berapa tahun, jatuh ke neraka mungkin saja dan sengsara tahunan lamanya atau antri ke pintu nikmat tahunan lamanya, barulah mendapatkan kenikmatan.

Kenikmatan itu yang dari pintunya saja dalam sekejap bisa melupakan kita dari sedih dan sengsara selama dunia yang sekejap (paling 100 tahun) dan perasaan gelisah dan mencekam puluhan ribu tahun selama menanti hisab, masuk neraka mungkin dalam hitungan ribuan tahun.

“My life is reason I believe in qadha and qadar”

Literatur banyak ku baca dan semua berkaitan satu sama lain menjelaskan jalan hidupku. Mereka menjelaskan tentang qadha and qadar. Thanks to Harun-Yahya untuk “Hakikat di Balik Materi”nya dan serial pelengkap lainya, teman-teman bodol Duki dan Emon yang dulu tiap malam membahas realitas takdir, om Ronald atas ilmu berharganya, Ade Cahyadi untuk referensi buku yang didapat saat jalan2 ke Gramedia karena gak jadi nonton film Sang Pemimpi, Mame yang memberikan pintu ke ujian dunia yang menurutku aneh dan lucu selama 6 bulan terakhir ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar