Guwa melo cuma buat Allah, My Sin, and you. Yang lain kagaklah...Setelah lama akhirnya diputuskan mencoba metode yang telah lama dianjurkan. Juga mengingat sebuah quote di status FB milik teman “If you love somebody, let them go. If they return, they were always yours. If they don't, they never were.”
Waktu memang telah mengalir. Emosi krn keadaan dan otaknya, telah menutup pintunya dan tak terbuka lagi seperti air laut tidak mungkin kembali ke hulu, kecuali ada energi mentari yang membawanya kembali dengan cara yang berbeda dan tak biasa. Mentari itu adalah doa, tapi tidak pasti juga dia akan kembali ke hulu yang sama tetapi mungkin ke hulu yang lain. Pintu akan terbuka untuk siapa?
Aku menelusuri dan aku menemukan kata "I believe in" dari sebuah album foto seseorang. Akupun mendengar kisah dari temannya tentang kebahagiaannya saat pesan pendek masuk ke alat komunikasinya. Pesan nyasar entah sengaja atau tidak masuk ke alat milikku. Bermain futsal di malam hari pasti badan jadi bau, kira2 seperti itulah sebuah drama romansa sejati. Pesan itu "disasarkan" sang Kuasa di saat yang sama, saat aku bermain drama denganya, sebuah melodrama yang pasti berakhir dengan nestapa bagi penikmatnya. (yang di atas cuma sotoy aja, siapa tahu dalamnya samudra kan?).
Akupun tak terlihat serius membentuk keluarga baru itu. Sang kepala rumah tangga yang membuat kesal dan kesialan karena fakirnya pengetahuan membuat rumah tangga baru itu semakin terjepit. Sungguh Bodoh, aku baca sebuah bacaan. Siapakah yang akan dipilih jika wanita bersedih lalu ada pria bercerita dan mencoba mengambil hikmah alih-alih dianggap menggurui atau pria yang menenangkan dan mengajaknya ke dufan? Rumah tangga sedang krisis malah menambah nestapa melodrama.
Aku juga bingung kenapa dulu aku memilih jalan yang kaku dan menilai takdirmu, padahal aibku sungguh binasa, perbuatan bejat yang kulakukan ditengah keramaian tapi dalam kesendirian, dan aku ingin seperti orang-orang lain ketika bersamamu. Ingin bercanda, tertawa dan bersedih bersama. Mungkin kupilih jalan itu karena pengalaman pertamaku, sebuah pengalaman pertama yang banyak memberi pengetahuan tapi memberi pil pahit karena aku bukan ABG lagi, aku waktu itu dalam keseriusan tertinggi setelah keseriusan aku memilih masuk ke Perguruan Tinggi ini.
Pilihan jalan itu jujur aku berpendapat jika memang dikaitkan karena karakter, bisa jadi benar. So, analisismu ga terlalu jauh bedanya dengan kenyataan. Tapi ada satu variabel yang dilupakan bahwa manusia itu adalah makhluk pembelajar. Bahwa karakterpun punya sayap yang bisa berkembang. Atau malah karakter asli tertutup karena keadaan dan akan muncul aslinya saat dia menyadari kehidupan. Pikiranku hari ini akan berbeda dengan hari esok. Meski tak banyak kuungkapkan aku menyesal dan telah meralat dalam pikiran dan hatiku sendiri mengenai beberapa perilaku dan pendapat pribadiku yang miskin ilmu. (Aku berjanji akan bikin tulisan khusus tentang ralat ini kali ya)Haha... ini lagu songong
Akulah idaman
Kaupuntlah merasakannya
Kaupun mengakuinya
Terima saja terima....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar