24 Januari 2010
Perjalanan dengan kereta di mulai dari stasiun Purwokerto. Berangkat dari kos teman jam setengah sepuluh, sampai di stasiun beli tiket, petugas bilang kereta siap di jalur 3 berangkat tepat jam 10 malam. Di antar Legi Gunawan sampai pintu masuk aku menunggu 2 menit kereta langsung muncul. Masuk dan mencari tempat terbaik yaitu dekat toilet kereta. Selama perjalanan bisa tidur puas tapi sayang kakinya harus ditekuk sedikit. Lumayan nyaman karena bisa berbaring gak perlu menahan kepala yang berat kalau udah kantuk.
Sampai di Manggarai jam 5.20 pagi terus naik kereta listrik jurusan Bogor. Waktu mau turun kereta api ketemu Vivi. Naik kereta listrik juga segerbong sama Vivi yang ditemani teman atau saudara cowok, aku gak tanya sih. Sampai di stasiun UI aku berjalan kaki menuju kontrakan, sambil belajar meditasi pernapasan. Mampir ke Masjid untuk buang hajat dan sholat Subuh, gak tau diterima apa gak. Sampe di kontrakan ternyata sepi pada tidur, aku bersih2 lalu naik untuk tidut.
Aku bermimpi mengobrol dengan kakak dan ibuku. Aku bercerita tentang Esha yang sudah menjadi auditor BPK dan sudah cukup mapan secara keuangan. Lalu entah mengapa menelusuri kehidupanku sendiri. Aku akhirnya sempat bilang kesalahannya karena aku gak langsung kuliah waktu aku lulus. Aku liat muka Mom. Tersenyum, tertawa tapi pahit di hati.
Masih terbayang wajah Mom aku terbangun lalu aku menangis sejadi-jadinya. Kalo ada orang yang di kamar waktu itu pasti akan mendengar suaraku. Bnar-benar aku menyesal kenapa meski dalam mimpi aku melukai Mom dengan mengungkapkan takdir yang sudah terjadi. Aku tahu Mom selalu merasa bersalah dengan nasibku yang harus berhenti untuk melanjutkan pendidikan padahal Universitas bagus bisa aku masuki. Orang lain punya dana tapi tidak punya kemampuan untuk masuk ke Universitas unggulan di negeri ini.
Menangis sejadinya meski agak sempat aku tahan. Untuk mengimbangi perasaan aku sempatkan berdoa untuk Mom agar tenang di kubur dan mendapat ampunan di alam akhirat. Hidung tersumbat, perasaan, getarannya masih ada bahkan sampai saat aku menulis ini. Lalu aku ke belakang, semua orang ada pada saat itu. Alhamdulillah yang lihat wajahku cuma Roni seorang, yang lain sibuk dengan memasak dan ada yang menyapu. Di dalam kamar mandi-pun airmata terus mengalir. Selesai aku lalu pinjem motor untuk menenangkan diri di luar. Dengan mambawa bidadari kecil si Amel aku melajukan motor ke Juanda tempat pasar kaget mingguan.
Perasaan yang terbawa mimpi itu membuatku lupa dan tidak peduli lagi dengan seseorang yang spesial itu. Nafsi-nafsi. Aku menyangka bagaimana nanti kita di hari akhir hanya bisa meratapi nasib dengan menangis bahkan sampai keluar air mata darah. Karena mimpi itu aku bisa menangis dengan hebatnya, mungkin kejadian hari akhir nanti akan sedemikian hebat sehingga orang-orang pun akan tidak bisa menyangkal perasaannya.
Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan berilah meraka kasih sayang sebagaimana aku disayangi waktu kecil oleh mereka.
I Love U Mom.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar